Warisan?

Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan yang berkewarganegaraan Indonesia, maka otomatis saya juga berkewarganegaraan Indonesia. Padahal sebenernya saya pengen banget lahir di Jepang atau Korea, alasannya. Seandainya saya jadi orang Jepang atau Korea, tentulah tidak susah menggaet gadis Indonesia untuk dijadikan pasangan karena saya pasti berkulit putih dan tampan.

Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.
Kewarganegaraan saya warisan.
Tapi saya tidak dapat harta warisan.
Juga tidak pernah nembus arisan.
Tapi kalau sakit maag saya minum waisan.
Dan karena miskin, saya juga tidak bisa pindah kewarganegaraan.

Selama tinggal di Indonesia, saya tidak bisa terlalu memilih acara yang berkualitas di TV. Selain karena jumlah channelnya  tidak begitu banyak dan kualitas tayangannya yang juga hampir semuanya sama. Saya juga harus berebut dengan emak dan saudara-saudara saya.

Ingin berlangganan TV kabel agar bisa leluasa memilih tontonan yang berkualitas, tapi nggak mampu untuk membayar bulanannya.
Kapan bangsa ini bakalan maju kalau dari kecil sudah di suguhi dan di doktrin dengan acara-acara Yia'elah di TV?
Padahal acara-acara yang di tayangkan oleh TV itu seharusnya edukatif, informatif dan inspiratif.
Karena pada umumnya acara TV mampu mempengaruhi perilaku, sikap dan pandangan persepsi penontonnya.

Jangan salahkan pemerintah. Tapi Salahkan saja para orang tua yang enggan mengawasi apa yang ditonton oleh anak-anaknya. Meskipun di TV sudah ada peringatan bahwa acara tersebut untuk Remaja (R) atau Dewasa (D) atau juga membutuhkan Bimbingan Orang Tua (BO). Tapi apa iya, para orang tua beneran melakukannya? Punya waktu juga nggak. Kerja berangkat pagi pulang malam.

Pernah cukup ramai, ada seorang ibu-ibu yang mencak-mencak di sosial media perihal film Deadpool yang katanya tidak pantas ditonton oleh anak-anak.
Oke maksud beliau sih baik ya, tapi salah tempat banget. Apa beliau tidak melihat rating film tersebut memang tidak diperuntukan untuk anak-anak.
Nah artinya apa? Artinya cukup jelas ya, tidak banyak orang yang perduli terhadap suatu rating usia sebuah tontonan.

Terus apa iya, si anak bakalan nggak nonton beneran kalau misalkan orang tuanya lagi nggak ada?
Karena ngerasa nggak ada yang bisa membimbingnya, maka si anak nggak jadi nonton acara TV yang mengharuskan adanya Bimbingan dari Orang Tua.
Apakah ada jaminan seperti itu? Tidak.

Menurut saya itu percuma, sama seperti peringatan di situs-situs website dewasa. Disitu ada larangan, bagi yang belum berusia 17 tahun lebih tidak diperbolehkan membuka situs tersebut. Tapi siapa yang berani menjamin bahwa peringatan tersebut akan benar-benar di patuhi? Tidak akan ada.

Lalu sebenarnya salahnya siapa?
Saya sih pengennya nyalahin pemerintah. Tapi saya tidak berani, soalnya takut kalau nanti bakalan tercyduk. :'D

Untungnya, saya lahir di tahun 90an.
Di jaman itu, masih banyak tontonan yang aman untuk anak-anak. Lagu anak-anak yang muncul di TV juga masih banyak banget. Tidak seperti jaman sekarang. Untuk mendengarkan lagu anak-anak saja harus menunggu abang odong-odong lewat terlebih dahulu.

Saat ini saya merasa kesulitan untuk mencari acara TV yang bagus.
Apalagi acara TV yang lumayan bagus justru tayangnya cenderung larut malam atau di jam-jam sibuk. Berbeda dengan acara-acara Yia'elah yang justru tayang prime time.

Cukup bingung juga dengan jadwal jam tayang acara TV di Indonesia ini.
Tempo hari saya terbangun dini hari dan mendapati ada drama korea di Indosiar. Itu kalau nggak salah sekitar jam 2 atau 3 pagi gitu, TV belum dimatikan karena saya ketiduran.
Gilak banget, memang ada ya orang yang beneran niatin nonton drama korea jam segitu?
Lebih gila lagi, Dora The Explorer, Chalkzone dan beberapa Kartun lainnya pernah tayang jam 5 pagi.
Ya ampunn..
Itu yang nonton kartun jam segitu siapa? Ayam?

Berita di TV pun isinya juga Yia'elah, isinya tentang korupsi, perampokan, pembunuhan, pencabulan, penemuan mayat termasuk pembuangan janin sampai penggerebekan tempat-tempat mesum. Saya khawatir, dengan isi berita yang hampir sama setiap hari seperti itu. Maka lama-lama orang akan berfikir bahwa hal-hal yang seperti itu adalah sesuatu yang sangat lumrah. Korupsi itu lumrah, mesum itu lumrah, ngerampok itu lumrah, ngebuang bayi lumrah bahkan membunuh orang juga sesuatu yang lumrah.

Bagaimana dengan berita yang lain? Soal politik misalnya. Sama aja, TV di Indonesia kebanyakan adalah milik politikus atau simpatisan. Jadi  berita-berita yang disampaikan terkadang jadi terasa subjektif. Yang pro pemerintah ya gitu. Dan yang Oposisi juga gitu. Sulit mencari berita politik di TV yang netral.

Karena acara-acara di TV kebanyakan yang Yia'elah, saya coba lari ke Youtube. Tapi ternyata juga sama saja seperti TV, bahkan malah sampai ada yang bilang kalau Youtube lebih dari TV. Ya iya sih, soalnya Youtube harus pakai Internet, sedangkan TV nggak.

Konten-konten Yia'elah di Youtube subur makmur. Mulai dari gamer yang doyan ngomong kotor, cewek yang mengumbar gaya hidup bebasnya, Rapper yang selalu koar-koar kayak knalpot Metromini, Komika yang bikin video prank nanyain ukuran BH cewek. Padahal dia merupakan komika yang sudah banyak main film, apa udah nggak laku main film lagi coba sampai bikin-bikin video seperti itu?
Mirisnya lagi, video-video mereka tidak hanya ditonton tapi justru disukai oleh anak-anak dibawah umur yang masih labil dan rentan latah ikut-ikutan meniru.

Parah lagi dengan adanya aneka video tidak senonoh lainnya. Mulai dari video mesum, video cewek-cewek yang goyang-goyang binal dari aplikasi Bigo sampai cewek-cewek yang bernyanyi sambil buka-bukaan aurat sambi nari-nari binal dari aplikasi smule.
Duhhhh...

Saya mengasihani mereka yang suka banget nonton Sinetron, Rumah Uya, Anti Jones, Katakan Putus, Pesbuker, Dahsyat, Acara pencarian penyanyi dangdut yang nyanyinya cuma tiga menit tapi penilaian juri ditambah becandaanya bisa satu jam lebih serta aneka sinetron yang tayang seharian semalem hasil impor dari India dan acara-acara lainnya yang sejenis.

Tapi ternyata, orang-orang yang saya kasihani tersebut juga punya anggapan yang sama terhadap saya.

Mereka mengasihani orang yang menonton Naruto, Spongebob, Pororo, Cloud Bread, Tayo, Chuggington, Robocar Poli dan lainnya.
Mereka kasihan, karena orang-orang seperti saya ini sudah dewasa tapi masih suka nonton acara untuk anak-anak.
Bahkan ada orang yang mengganggap kami pedofil karena kesukaan kami terhadap karakter Anime.

Lalu saya jadi berfikir, jangan-jangan itulah alasan kenapa Sandy (Tupai temennya Spongebob) dan Shizuka (Doraemon) disensor oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ketika memakai bikini. Mungkin dikhawatirkan kami akan lantas jadi Pedofil setelah ngeliat tupai dan anak kecil memakai bikini.

Dalam sebuah video di Youtube, Pandji Pragiwaksono mengatakan, "Pengahalang Terbesar Kita Bersatu Adalah Kita Sendiri Dan Asumsi Kita"

Salah satu karakteristik manusia memang saling mengklaim kebenaran dirinya sendiri.
Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya juga "Asumsi".

Kami sering berselisih dengan mereka-mereka yang suka menonton sinetron dan acara-acara yang Yia'elah lainnya.

Latar belakang dari perselisihan itu adalah karena masing-masing mengklaim, "Tontonannya adalah yang terbaik". Apalagi KPI sendiri telah meluluskan acara-acara yang Yia'elah. Sementara Kartun dan anime seperti Spongebob, Dragon Ball dan Crayon Shin Chan dan yang lainnya tidak. Padahal menurut kami justru acara-acara Yia'elah itulah yang seharusnya desemprot.

Lantas pertanyaan saya adalah, mengapa banyak acara Yia'elah yang tidak di semprot oleh KPI dan bebas tayang di TV?

Kita tidak bisa menyalahkan KPI, ketika mereka menyemprot beberapa Anime dan Kartun. Karena memang beberapa  Anime dan Kartun tersebut  sebenarnya tidak pantas untuk ditonton oleh anak-anak. 

Masalahnya terletak pada stasiun TV yang menayangkannya. Mereka seharusnya mengkategorikan sebuah acara TV berdasarkan rating usia dengan benar. Setelah rating usianya sudah benar, baru kemudian diatur jam tayangnya.
Ini nggak, selama ini stasiun TV terkesan memukul rata. Asal Kartun atau Anime, maka dipukul rata itu  adalah tontonan bagi anak-anak. Jam tayangnya pun juga merupakan jam-jam anak-anak nonton TV. Ya wajar kalau akhirnya di semprot oleh KPI.

Apakah jika Indonesia dihuni oleh orang-orang yang tontonannya sama, akan menjamin kerukunan?

Tidak!

Nyatanya, di sosial media masih sering rusuh juga. Padahal orang-orang tersebut tontonannya sama.

Contohnya kemaren, saat Stefan William menggantikan Ammar Zoni di sinetron Anak Langit. Fans ribut, banyak yang setuju tapi banyak pula yang tidak.

Ini sebenarnya sangat absurd menurut saya. Awalnya Ammar Zoni menggantikan posisi Stefan William di Sinetron Anak Jalanan yang diceritakan mati karena ditabrak mobil setelah sebelumnya terlebih dulu hilang tenggelam di danau karena di hajar oleh Ammar Zoni. Nah, sekarang posisinya berbalik.
Ammar Zoni diceritakan mati tenggelam di danau karena sesuatu yang kurang jelas. Kemudian posisinya digantikan oleh Stefan William.
Luar biasa bukan? Bukan.

Di Anime pun juga begitu, salah satu contohnya adalah ketika Naruto Uzumaki akhirnya menikah dengan Hyuga Hinata.  Banyak yang suka tapi juga banyak yang nggak setuju. Alasannya beragam, salah satunya adalah karena hubungan mereka berdua adalah hasil dari pengorbanan seorang Hyuga Neji yang katanya mati syahid demi melindungi mereka berdua. Fans Hyuga Neji jadi kesel gitu sama Hyuga Hinata.
Saya nggak lagi nyindir loh ya.

Makanya, jangan heran ketika sentimen terhadap sesuatu masih terlalu kuat. Maka akan sulit untuk menerima sebuah kenyataan.

Bayangkan juga seandainya masing-masing penonton menuntut agar jalan cerita suatu film dibuat sesuai dengan keinginannya.
Maka, tinggal tunggu saja pembuat filmnya bakalan kesel dan kemudian nyuruh kalau mau seperti itu. Bikin film saja sendiri.

Karena itulah banyak acara-acara Yia'elah tayang di TV. Karena stasiun TV males nanggepin para penonton yang banyak maunya.

Mungkin dalam perspektif stasiun TV, mereka  bebas menanyangkan acara apa saja. Yang penting ratingnya bagus dan memberikan mereka banyak keuntungan. Tidak perduli acara tersebut mengedukasi atau tidak.

Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa absurd dan tidak mendidiknya sinetron Indonesia. Mulai dari Tersanjung season 1-6, Cinta Fitri season 1-7, Anak Jalanan dan sinetron Yia'elah lainnya.
Tidak kalah absurd ada sinetron-sinetron yang di Impor dari India seperti Uttaran, Lonceng Cinta, Ranvee, Balveer dan yang lainnya.
Juga Reality Show macam Rumah Uya, Katakan Putus, Anti Jones, Survivor.

Ada juga kartun asal India yang nggak kalah absurd macam Shiva. Seorang anak kecil yang jago dalam hal apapun. Dengan sepedanya yang bisa dipakai untuk melakukan apapun, dia membasmi kejahatan apapun.
Shiva ini selain absurd juga ngeselin, soalnya dia itu anak kecil tapi paling nggak suka kalau di panggil anak kecil. Kalau dipanggil dengan panggilan anak kecil dia akan bilang, "Jangan panggil aku anak kecil paman, Shiva. Namaku Shiva". Kemudian dia bakalan menghajar orang tersebut.

Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk mencari acara TV yang berkualitas.

Keadaan sudah sangat genting, saya pikir pemerintah harus segera mengeluarkan PERPU Sinetron dan acara-acara TV yang Yia'elah. Karena rakyat berhak atas tayangan-tayangan berkualitas di frekuensi milik publik yang bisa mengedukasi, memberikan informasi dan menginspirasi.

*gambar hanya pemanis

Komentar

  1. sebagai anggota fandom NejiHina, saya merasa terluka saat naruto menikah dengan Hinata.
    sebagai anggota fandom SAsuNAru garis keras, luka dari pernikahan mereka ditaburi garam saat tahu bahwa Sasuke menikah dengan Sakura. PERIH!
    #curhat

    haduh... kalau bahas film indonesia... cuma bisa dibawa ketawa aja.
    dua hari yg lalu (kalau ga salah) sempat ikutan emak nonton film di indosi@. di sana ada adegan si A lari dikejar B dan C (jarak A dengan B dan C kira-kira 5 meter). lalu A ditabrak mobil. saat mobilnya kabur, yang tergeletak malah dua orang (A dan B).
    kemudian, datanglah warga, mereka menuduh C sebagai pelaku dan membawa C ke kantor polisi bersama-sama, sementara A dan B dibiarkan tergeletak.
    di kantor polisi, si C dikatakan sebagai pelaku yg telah mendorong A dan B hingga B meninggal dunia. (mendorong aja bisa bikin meninggal)
    lalu terjadilah adegan paling mainstream di rumah sakit (dokter bilang, "kami sudah melakukan semaksimal mungkin tapi korban tidak dapat diselamatkan)


    hari itu saya ngakak sambil heboh2 karena logika saya menentang semua itu :'D


    btw saya sempat suka nonton sinet india Anandhi pfffft tapi aneh, tiba2 serialnya menghilang begitu saja tanpa kata ending.


    BalasHapus
  2. Aku cuma patah hati berat ketika Itachi mati di tangan sasuke. Serius, rasanya gak terima banget. 😂

    Kalau ngomongin sinetron mah.
    Jangan pakai nalar. Soalnya ilmu pengetahuan dan sains pun nggak bisa memecahkannya. Mungkin kalau albert einstein masih idup, dia akan merasa jadi orang yang gagal ketika menonton sinetron yang diluar nalar itu. Contoh kecil, masak nabrak pohon dengan keras. Sampai yang nabrak terluka. Tapi pohon yang dia tabrak nggak lecet sedikit pun. 😂😂😂



    Btw ini panjang banget komentarnya. Lebih panjang dari postingan saya malah. 😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. daripada aku cuma bikin "keren. mampir ke blog ane juga gan!"
      pfffft

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Toko Buku Bekas di Ciledug

My Dol, Aplikasi yang bikin gue tambah ngenes

Kakak ade'an (kakak kakaan adek adean)