Diam

Kapan itu, sudah lumayan cukup lama sih, salah satu temen internet ngasih link ke gue. Sebuah link artikel yang judulnya "10 Hal Selingan Menulis Agar tetap Kreatif dan Produktif"

Aahhhh...
Senangnya, masih ada yang inget dan perhatian sama orang tua kayak gue.
😅 *Ditabok

Artikelnya keren...
Dan gue berasa digampar, digampar pake kamus besar bahasa indonesia yang pake hard cover. *Halah

"Seorang penulis itu menulis, sementara seorang pemimpi bermimpi menulis".

Iya, gue merasa digampar sama kalimat pertama di artikel tersebut. Padahal  pengen banget  nulis cerita komedi, tapi selama ini gue cuma memikirkan tanpa pernah menuliskannya. 😥

Eh eh tapikan tapikan gak ada salahnya bermimpi. Hidup aja kan berawal dari mimpi. 😂

Karena ngerasa digampar, gue pun nyoba buat ngikutin apa yang ditulis di artikel tersebut. Inilah 10 selingan menulis agar tetap produktif yang ada di artikel itu.
1. Berolahraga
2. Tertawa, Bercanda, Tersenyum
3. Menyisihkan waktu untuk diam, tidak mengerjakan apa-apa
4. Membaca Kitab Suci
5. Mencoba atau melakukan sesuatu yang baru
6. Jangan Lakukan
7. Cari, temukan, dan nikmatilah “me time”
8. STOP Menulis
9. Relaksasi
10. Ibadah dan berdoa

Untuk penjelasannya, kalian bisa baca sendiri di sini. Bukannya males, lha wong tinggal copas doang kok. Tapi gue nggak mau nyopas artikel orang sepenuhnya. Gila aja kan, orang lain yang susah-susah nulis, terus gue posting ulang gitu aja. 😂

Dari kesepuluh cara tersebut, baru tadi sih gue nyobain salah satunya. Gue pilih yang paling gampang dulu. Iya, gampang banget malah.

"Menyisihkan waktu untuk diam, tidak mengerjakan apa-apa".

Kadang, kita butuh berhenti sejenak dalam hidup ini agar bisa terus berjalan. Karen Ball, seorang penulis dari luar, menyarankan calon penulis untuk diam sejenak selama 15 menit setiap hari, tidak melakukan apa-apa. Larutkan diri sepenuhnya dalam kesunyian, tanpa musik, tanpa orang lain yang mengajak bicara, lima belas menit saja. Dalam waktu 15 menit diam ini, lupakan semua masalah, semua tuntutan, semua deadline, semua kebutuhan, semua suara selain diri sendiri. Kadang, di tengah riuhnya kehidupan keseharian, penulis jadi kesulitan untuk menangkap suara-suara semesta sebagai sumber ide tulisannya. Kadang, semesta membutuhkan kesunyian agar bisa menyampaikan suara-suaranya kepada para penulis. Tidak heran jika kemudian kita jumpai banyak penulis yang memilih menyepi di pantai, di hutan, atau di desa agar bisa fokus menulis. Karena menulis adalah produk kesunyian, meskipun menjadi penulis tidak kemudian harus sunyi hidupnya.
Bagaimana dengan kita yang tidak punya waktu (atau dana) untuk menyepi ke pantai atau hutan? Menyepilah sebisanya, kapan pun di mana pun. Menyepi ini tidak harus lama, kadang cukup 15 menit sehari. Bisa sebelum tidur, atau pagi hari setelah shalat subuh, kapan pun kau bisa menemukannya. Bukan lama atau di mana tempat menyepinya, tetapi kualitas menyepinya.

Menurut gue ini paling mudah. Karena, gue cuma  harus diem nggak melakukan apa-apa. Terlihat sangat mudah....

Tapi gue salah banget pake Z, bangetZ. *Yia'elah om, jadi orang kok salah melulu.
Kalo cuma diem doang nggak ngelakuin apa-apa sih oke, gue udah sering males-malesan kayak gitu. Tapi kalo diemnya nggak mikirin apa-apa, Demi Dewa....!!!
Gue gak bisa, pas dicoba ternyata susah bangetz pake Z.
Otak gue  gak bisa kalo disuruh berhenti mikir, makanya selama ini susah buat fokus. 😫

Ada aja, mulai dari kerjaan (ini sih yang paing sering, bahkan kadang pas tidur pun mimpinya soal kerjaan). 😂
Terus hal-hal gak penting lainnya termasuk mikir kotor (pakaian kotor, piring kotor dan yang kotor -kotor lainnya) 😅
Gue juga suka berada ditempat pribadi gue sendiri, yang bahasa kerennya adalah berhayal.
Apa aja gue hayalin, dan biasanya gak kenal waktu atau tempat. Makanya kadang kalo lagi diem, terus tiba-tiba  nyeletuk "apa gitu". Nah, itu karena lagi berkhayal. 😅

Tadi aja pas lagi nyoba buat diem gak melakukan apa-apa. Malahan sempet ngehayal gini, misalkan emak gue punya facebook. Paling emak bakal bikin status gini.
"Duhh biyung, sepi banget ini rumah. Punya anak banyak, diurusin dari kecil. Giliran udah gedhe pada mencar kemana -mana. Pulangnya cuma pas lebaran doang 😌".
Terus gue komen gini
"Emak dari pada dirumah sepi sendirian, mending ikut kesini. Bantu-bantu jilid buku kan bisa 😅".
Terus emak bales,
"Mending kamu aja yang pulang, nemenin emak. Nyari-nyari rumput buat kambing kan bisa, dari pada disitu ngeluh mulu soal kerjaan 😂". 
Oke...emak gue gak bakalan kayak gitu sih, hayalan gue liar banget. *Halah

Melupakan semua masalah, semua tuntutan, semua deadline, semua kebutuhan.
Kalo melupakan semua itu mudah, gue pasti udah bisa mode sage, gue bisa menyerap senjutsu(energi alam) kayak Naruto Uzumaki. Belajar senjutsu itu kan harus diam, tidak melakukan dan memikirkan apapun kayak orang mati, sama kayak konsep diam yang dimaksud sama artikel yang gue bilang tadi. Lha kalo gue bisa melakukannya, bukan hanya gue bisa nulis produktif. Tapi gue juga bisa jadi sennin dong yah. 
*Halah

Ternyata ada pembenaran kenapa aku gak bisa berhenti mikir in kamu, iya kamu. Kenapa sih kamu gak mau maafin aku? 😅 *Eaaaaa
Faktanya emang, otak kita tuh hampir selalu dalam kondisi "on" bahkan saat kita sedang malas berfikir. Otak terus - menerus bekerja memikirkan deadline, rapat, dan berbagai hal lain.
Jadi wajar yah lah kalo otak gue gak bisa disuruh berhenti mikir. 😂

Berarti salah satu cara di artikel itu gak berlaku buat gue. Tapi nggak ada yang sia-sia di dunia ini. Gue emang gagal pas nyoba cara tadi itu, tapi berkat itu. Seenggaknya kan jempol gue bisa melahirkan tulisan yang meaningless absurd dan apa banget ini. 😂
*Yia'elah

Komentar

  1. And then....
    tulisan yang 'sebelumnya' itu udah beres diselesaikan belum yaaa?
    😏😪👻

    BalasHapus
    Balasan
    1. (  '-' )ノ)`-' )
      Kalo aku kekeh ngelarin itu, kayaknya malah bakal gak bisa menghasilkan tulisan yang lain. Jadi mending di nggak usah-in kayaknya. 😂

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Toko Buku Bekas di Ciledug

My Dol, Aplikasi yang bikin gue tambah ngenes

Kakak ade'an (kakak kakaan adek adean)