Pemulung Natchkal

Udah beberapa kali gue dikecewain sama pemulung, gue kapok. Mulai sekarang gak mau lagi pacaran sama pemulung. *apasih

Pemulung...
Sebenarnya gue respect banget sama profesi ini. Karena selain petugas kebersihan,  pemulung juga ikut menjaga kebersihan. 
Iya meskipun mereka hanya mengambil sampah yang bisa didaur ulang dan yang bisa dijual saja. Tapi itu udah cukup untuk membuat gue respect sama mereka. Apalagi sampah plastik yang mereka ambil kan gak ramah lingkungan, susah diurai soalnya.

Bahkan gue sampai punya pemulung idola.
Seorang bapak-bapak tua, yang sopan banget. Dia juga telaten, kalo ada kertas. Walau cuma beberapa lembar juga dibawa sama beliau.

Gue sering ngumpulin botol plastik dan kertas bekas di balik pintu. Hanya agar bisa diberikan ke bapak-bapak pemulung idola gue tadi. Karena udah sering dikasih, lama kelamaan kalo dateng biasanya beliau suka nanyain. Simbiosis mutualisme bak Kerbau dan burung Jalak  ini berjalan lumayan cukup lama. Hingga akhirnya, kami saling mengecewakan.

Gue kecewa sama bapak pemulung tadi karena, beberapa kali pas gue simpan sampah yang mau diberikan ke padanya di belakang pintu. Beliau nggak kunjung datang. Berhari-hari ditunggu, bahkan sampai pintunya udah mulai kesusahan menahan tumpukan sampah tersebut tapi gak dateng juga.
Kesabaran gue habis, akhirnya gue taruh aja di depan. Untuk selanjutnya diambil sama petugas kebersihan.
Kemudian, beberapa hari setelahnya. Si bapak baru dateng nanyain, "ada nggak dek sampahnya?"
To late...
Udah terlanjur dibuang.

Kejadian seperti itu terulang sampai beberapa kali. Kadang juga karena emang lagi nggak ada botol plastik atau kertas sampah yang ada. Dan hal itu sepertinya membuat beliau  kecewa. Karena, beliau akhirnya sama sekali nggak pernah mau mampir lagi. Padahal sampai sekarang pun, gue masih sering melihat beliau lewat. Tapi, mungkin saking kecewanya. Beliau gak pernah mau mampir lagi.

Iya, bukankah mengecewakan dan dikecewakan itu adalah sesuatu yang gak bisa dihindari dalam setiap hubungan?
Walaupun kita berusaha untuk tidak membuat kecewa, kekecewaan itu pasti ada. Karena kadang, secara nggak sengaja kita udah mengecewakan orang lain.
Namanya gak sengaja, siapa yang mau disalahkan? harusnya sih gak ada. Tapi harus tetap ada yang disalahkan. Akhirnya mungkin bakalan ada yang mengaku, "maaf, Ini salah saya". Kemudian dipihak satunya bilang "nggak kok nggak,  ini bukan salah kamu. Ini salah aku".

Demi dewaaa....!!
Padahal mah aslinya, siapa yang tau?

Aku?

Jadi bintang iklan celana dalam mini market lain? Wahahahaha...ups.

Tapi pengakuan semacam itu menurut gue sangat dibutuhkan untuk  memperbaiki sebuah hubungan yang terancam atau sebenarnya malah udah rusak. Tapi sayangnya, meskipun sudah mengesampingkan ego,harga diri atau apalah tetek bengek. Cara itu gak selalu bisa mengembalikan sebuah hubungan yang udah berantakan menjadi  indah seperti sediakala. Diperlukan keinginan yang tulus dari kedua belah pihak. 😂 *apaan sih

Selain bapak pemulung idola tadi.
Ada beberapa pemulung lain yang suka mampir ke tempat gue.  Tapi gak ada yang seramah bapak pemulung idola. Mereka rata-rata masih muda dan tatapan mata maupun gerak-geriknya gak bersahabat.  Makin dipertegas lagi dengan kasus hilangnya sandal gue. 
Tak diragukan, diantara mereka pasti ada pemulung yang nakal.
Oke, mungkin pelakunya bukan pemulung. Mengingat siapa saja kan bisa ngambil sandal. Tapi tempat sampah juga pernah ilang. Ketika gue tinggal mudik kemaren, tempat sampah gue yang berbahan plastik itu raib.

Oke, gak boleh suu'dzon lagi.
Tapi kenyataannya,  tempo hari tempat sampahnya hilang lagi. Tempat sampah yang aslinya adalah bekas kaleng lem itu hilang di pagi hari. Pelakunya? Siapa lagi kalo bukan pemulung nakal.
Padahal waktu kejadian, abang gue lagi didalem.  Terus kedengaran ada suara pemulung ngorek-ngorek tempat sampah. Karena gak berpikiran yang nggak-nggak. Abang gue ngediemin aja, hingga akhirnya pas dia keluar. Kaleng bekas lem yang telah berevolusi jadi tempat sampah itu telah hilang.

Nyesek banget...
Makin nyesek lagi karena dia meninggalkan sampah dalam keadaan berceceran.  Pemulung yang sebenarnya membantu menjaga kebersihan itu,  malah membuat kotor dan menyisakan PR buat gue. Layaknya kucing dan tikus got yang doyan banget ngobrak abrik sampah keluar dari tempatnyaMaaf ya maaf..
Gak bermaksud ngatain. 🙏🙏

Gue yakin Pemulung nakal model seperti ini pasti ada dimana-mana, gue yakin.
Bahkan, dulu sempet ada "Pemulung masuk desa". Keren....
Bukan hanya ABRI saja yang masuk desa, tapi pemulung juga.

Suatu hari, entah darimana asalnya desa gue tiba-tiba kedatangan seorang pemulung.
Sebagai catatan, di desa gue gak menjanjikan untuk pemulung jujur. Namanya di desa, sampah yang bisa didaur ulang jumlahnya gak seberapa. Gak ada botol plastik bekas minuman berceceran kayak di kota.
Gue paham betul, karena waktu itu gue masih kecil. Dan bareng temen-temen sering ngumpulin sampah-sampah, yang biasa kami sebut rongsokan. Rongsokan tersebut dijual ke  pembeli, yang datangnya seminggu sekali. Ngumpulin sampah dikampung itu sulit, gak kayak di kota. Makanya seneng banget kalo perabotan emak ada yang rusak. Malahan ngarepnya rusak semua. 😂
Bahkan pernah juga, gue sama keponakan ngambil perkakasnya bapak. Kirain itu gak dipake lagi, tapi ternyata masih dipake. Untung ketauan, kalo nggak ketauan pasti gue bakalan dimarahin habis-habisan. 😂
Tapi terasa menyenangkan waktu itu, karena selain sambil bermain sewaktu mengumpulkan rongsokan. Ganjaran yang akan kami dapatkan adalah mainan.

"Tukang ongek-ongek" disebutnya. Kenapa ongek-ongek?.
Itu karena pas pembeli rongsokan itu lewat, dia bakal bunyiin semacam alat pemanggil yang bunyinya, "ongek..!! ongek..!!"
Kemudian jika ada anak yang mendengarnya, dia bakalan lari ke pos siskamling kemudian memukul-mukul kentongan sambil teriak-teriak, "Tukang ongek-ongek datang...!!
Tukang ongek-ongek datang!!".
*Ya nggaklah

Asal denger suara ongek-ongek, kami pasti langsung lari ke jalan. Karena emang sengaja udah nunggu. Biasanya tukang ongek-ongeknya janji, mau datang hari apa. Dan dia hampir selalu menepati janjinya. Ya walupun kadang datangnya terlambat satu hari, tapi itu nggak pernah membuat kecewa.
Saat ongek-ongek udah parkir, yang lain bakalan ikut mengerumuni tukang ongek-ongek tersebut. Dan gak jarang bakal ada yang nangis karena nggak dituruti sama emaknya ketika meminta dibelikan mainan. Gue sih gak pernah ya, nangis kayak gitu. Gue  gak secengeng itu. 
😂

Banyak mainan yang dibawa sama tukang ongek-ongek, dan gue lebih sering nomboknya. Rongsokan yang gue kumpulkan dihargai gak seberapa karena memang jumlahnya yang gak seberapa. Atau mungkin karena kami hanya anak kecil yang gampang diakalin. Karena, entah seberapa pun kami berhasil mengumpulkan rongsokan. Perasaan dihargainnya tuh murah.
Iya, terkadang memang usaha  yang udah kita lakukan kurang dihargai sama orang lain, itu hal yang lumrah dalam kehidupan. 😂
*Yia'elah

Gue sendiri,  lebih seneng nukerin rongsokan yang gue kumpulin dengan buku komik.
Karya Tatang Suhendra a.k.a Tatang S yang diterbitkan oleh T.B. Sandro Jaya Agency.
Mengisahkan kehidupan Petruk cs yang hampir gak pernah luput dikerjain sama setan. Memang hampir setiap serinya selalu saja menceritakan kisah horror yang menimpa Petruk. Tapi lucu sih, gak horror banget. Dibalut dalam nuansa komedi soalnya. 

Salah satu seri yang gue inget, judulnya "Tawuran anak-anak setan".
Disitu Petruk lagi jalan,  terus hidungnya yang bak pinokio lagi ngibul itu kena lemparan batu. Karena penasaran, si Petruk berusaha mencari siapa yang telah menimpuknya. Akhirnya dia malah melihat anak-anak setan yang lagi tawuran. Dari situ dia tau, kalo batu yang ngenain hidungnya adalah batu nyasar yang dilemparkan oleh anak-anak setan tersebut. Kemudian si Petruk menghampiri mereka, memarahi mereka,  membubarkan mereka secara paksa. Bahkan salah satu anak setan tersebut ada yang digamparnya. Anak-anak setan tersebut  ketakutan, kemudian bubar lari pontang-panting.

Tapi satu anak yang ditampar sama Petruk sempat mengancam,  katanya dia bakalan ngaduin Petruk ke bapaknya.
Benar saja, ketika sesampainya dirumah. Petruk didatangi sama bapak anak setan yang digampar sama petruk tadi. Tapi bukan mau balas dendam, tapi justru berterima kasih. Karena berkat Petruk, anak-anak setan tadi ketakutan dan mereka janji nggak bakalan tawuran lagi. Padahal si bapak setan mengaku sudah putus asa menasehati anak-anaknya untuk nggak tawuran. Tapi tetap bandel tawuran. 

Pesan moralnya, tawuran adalah perbuatan buruk yang tidak hanya merugikan diri sendiri,  tapi juga orang lain. Bahkan saking  buruknya, anak-anak setan aja dilarang tawuran sama orang tuanya(yang juga setan).  Lantas kenapa kita yang manusia masih saja suka tawuran?  Gak malu apa sama setan?
😂 *Halah

Tapi selain menceritakan setan, pernah juga loh si Petruknya jadi Ksatria Baja Hitam, keren.
Pokoknya komik Petruk nya Tatang S itu keren.
"Salam manis tidak akan habis. Salam sayang tidak akan hilang". Itu kutipan di halaman terakhir komiknya.
Selain komik, gue juga suka sama gulali.
Apalagi karena rongsokan yang gue kumpulkan kadang memang cuma dihargai dengan beberapa gulali. Poor me..
Tapi gak papa sih, jadi pemulung jujur emang pahit. Tapi buah dari kejujuran itu manis kok. Bahkan lebih manis daripada gulalinya tukang ongek-ongek. 
*Halah

Kembali ke soal pemulung masuk desa.
Gak ada yang mengenalinya. Dan gak ada yang tau tempat tinggalnya. Pemulung ini menyengat bak lebah dan terbang bagai kupu-kupu. *Yia'elah

Dengan nakalnya, dia embat barang-barang yang sebenarnya masih dipake. Ember, gayung dan bahkan bak yang dia temukan disumur.  Tak luput dari ulah nakalnya. Dan ketika banyak orang yang mulai menyadari bahwa barang-barangnya telah hilang. Si pemulung ini juga hilang.
Mungkin setelah mengambil barang milik orang lain, pemulung tersebut juga mengambil dirinya sendiri.  Makanya ikutan menghilang.

Lebih parah lagi pemulung nakal yang satu ini, bukannya nakal lagi sih. Kata gue ini badung.
Lagi-lagi gue bakalan throwback. *cielah
Karena ini gue alamin sewaktu masih baru  dijakarta.

Awal-awal di Jakarta, gue pernah bekerja sebagai......
Bagian ini gak bisa gue ceritain. Soalnya gue gak mau ketauan kalo pernah kerja jadi tukang kebun, gue malu. Malu banget.
Malu bukan karena profesinya. Tapi karena kelakuan gue yang belum ada sebulan bekerja udah keluar. Malu sama yang udah masukin gue kesitu. Malu sama majikan yang telah mempekerjakan gue. 😂

Alasan gue keluar karena gue gak betah. Iya, gue masih sangat muda. Dan jadi tukang kebun bukan passion gue. Jiwa muda itu butuh kebebasan, dan profesi tukang kebun mengekang kebebasan.
Sebelum keluar, gue harus punya pekerjaan yang baru. Dan pilihannya cuma satu, ikut sodara yang jadi pemborong bangunan. Kemudian gue ambil pilihan itu. Karena jadi pengangguran di Jakarta hanya akan menyusahkan yang lainnya.
Sebenarnya ngedapetin pekerjaan itu gampang kok menurut gue. Yang susah adalalah ngedapetin pekerjaan yang cocok. Itu susah banget.

Karena sodara gue adalah seorang pemborong. Maka gue diangkat jadi asisten pemborong. *Gak ding 
Yang ada gue jadi pelayan disitu.
Tugas gue ngelayani tukang. Ngambilin adukan semen, batu bata, dan keperluan lainnya. Sesekali juga  beliin rokok atau minuman. Waktu itu gue dipakein kostum maid, ala-ala maid cafe di jepang gitu. Kebayang kan gimana cantiknya gue make kostum ala maid cafe gitu. *ditabok

Selama menjadi kenek, gue lumayan disukai sama tukang disitu. Karena gue orangnya cukup gesit. Selain itu juga, karena gue yang paling bodoh disitu. Dan kebodohan gue adalah sumber tawa. Salah satunya adalah saat gue disuruh ngambil "paku lima". Gue beneran ambilin paku lima biji. Padahal paku lima adalah paku ukuran lima centimeter. Bukan paku sembarang yang jumlahnya lima biji. Tentu saja kebodohan yang gue lakukan itu kemudian jadi bahan untuk tertawa berjamaah.

Salah duanya(?), ketika itu gue terbangun tengah malam. Kemudian ngeliat dalam kegelapan ada sesosok gitu sedang duduk memandangi gue dalam diam. Sontak gue langsung teriak sekeras mungkin. Sehingga membangunkan semua orang yang ada di proyek bangunan itu. Setelah gue tau kalo sesosok yang gue takuti itu ternyata salah satu tukang yang belum tidur. Kemudian menjelaskan kenapa gue teriak, kepada orang-orang yang terbangun.  Mereka semua melanjutkan tidurnya, seolah tidak ada kejadian apa-apa. Tapi keesokan dan hari-hari swalayan, hari-berikutnya maksud gue. Lagi-lagi  jadi bahan ketawaan buat mereka.

Oke, udah cukup gue rasa throwbacknya.
Kembali ke kegelisahan gue perihal pemulung nakal tadi. Suatu hari, di proyek kehilangan mesin pemotong besi. Pelakunya, dipastikan bukan orang dalam.  Karena pekerja di proyek itu, sodara gue udah kenal semuanya. Gak mungkin ada yang reseh.
Lalu di suatu malam, salah satu pekerja memergoki ada yang masuk ke dalam proyek. Kemudian dia membangunkan yang lain. Karena ketauan, si maling ini kabur. Kemudian dikejar ramai-ramai. Ada yang membawa obor, golok, tombak,  bambu runcing, bahkan pensil alis. *Plak

Alangkah kagetnya saat si maling berhenti. Ternyata dia adalah seorang pemulung yang sering nyari barang bekas di proyek. Tentu saja semua hafal dengan wajahnya. Tapi karena, gak mau nyari ribut. Si pemulung nakal yang merangkap menjadi maling ini dilepaskan.
Kemudian, beberapa hari setelah kejadian itu. Si pemulung nakal ini dengan wajah seolah tanpa dosa. Nongol lagi, mulung di proyek. Seolah-olah gak pernah ngelakuin kejahatan. Bahkan, saat diusir sama keamanan. Dia malah ngancem. Katanya, "awas aja kalo ketemu di jalan, gue cium lu" gitu.
Ya nggaklah..
Tapi intinya dia emang ngancem. Mau menghajar kalo ketemu dijalan.

Pemulung nakal
Dimana pun tempatnya, pasti ada.
Dan hanya karena ulah satu orang, yang lain jadi kena getahnya.  Biasanya di perumahan ada yang ngasih tulisan peringatan. "pemulung dilarang masuk".
Makanya jangan nakal, jadilah pemulung yang jujur. 😅

By the way...
Kerja di bangunan itu sebenarnya enak sih.
Kerjanya lebih banyak pake otot doang, iya walupun tetep ada sih mikirnya. Bahkan kadang malah harus mikir keras kalo nemu medan yang susah.
Tapi tetep aja kata gue enak.
Gak ada deadline..
Gak stres kerjaan numpuk..
Jam kerjanya juga,  cuma dari jam 8 sampai jam 5 doang. Setelah itu bebas...
Hari minggu bebas kalo mau libur..
Kalo udah jadi tukang, pendapatannya lumayan besar lagi..

Seandainya saja dulu, gak ada konspirasi dari abang gue. Mungkin sekarang gue udah jadi tukang.  Mungkin bakalan macho...
Bisa mengerjakan pekerjaan laki-laki. Gak gemetaran kalo benerin genteng bocor. Gak gemetaran kalo megang mesin pemotong.
Gak dibentak-bentak orang mulu kalo dijalan raya..
Bisa bangun rumah sendiri..
Wahaha..
Kan keren. 
Tapi meskipun gue gak bisa bangun rumah sendiri. Tapi gue yakin kok, bisa bangun rumah tangga bersama kamu. 😂
*eaaaa

*konspirasi dari abang gue
Waktu itu, selepas proyek selesai. Semua bubar. Kemudian setelah sodara gue yang dari jawa dapet proyek baru. Sebenernya gue diajak lagi. Itu karena kerja gue bagus katanya.
Tapi abang gue berbohong, dia bilang kalo gue udah dapet kerjaan. Padahal waktu itu gue cuma bantu-bantu aja di percetakannya dia. Selagi nganggur gak punya kerjaan. Hingga akhirnya malah, gue kerja disitu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Toko Buku Bekas di Ciledug

My Dol, Aplikasi yang bikin gue tambah ngenes

Kakak ade'an (kakak kakaan adek adean)