Perpecahannya tuh disini

"Udah ada tanda-tanda Indonesia bakalan pecah belum karena ada aksi turun ke jalan. Coba di check, dari sabang sampai merauke. Udah ada yang memisahkan diri dari NKRI kah?"

Awalnya gue gak mau nulis beginian.
Meskipun sebenernya udah jadi unek-unek yang bak bisul pengen pecah. Tapi karena udah gak tahan lagi dengan Mr. Know it all yang bertebaran di Facebook.  Maka gue putuskan, gue juga akan jadi salah satu Mr. Know it all seperti mereka.

FYI...
Mr. Know it all itu artinya adalah "Sok Tahu".

Jumat 4 November 2016.
Pagi itu, gue ngerasa jalanan lenggang tak seperti biasanya. Padahal gue pergi ke Apotek sekitar jam sembilan lebih. Tak sedikit kios yang tutup, pedagang makanan pun tak semuanya ada. Sampai-sampai keinginan gue untuk sekalian beli gorengan pun gagal. Tak seorang penjual gorengan pun gue bisa temuin. Padahal biasanya gak susah nyari tukang gorengan, mah.

Siangnya, WhatsApp gue bunyi.
Ada chat dari adeknya yang punya tempat yang gue tumpangi. Eh gimana ya?
Jadi gini, gue nyewa ditempat orang. Nah, orangnya ini punya adek. Adeknya ini dulu tinggal sama yang punya tempat yang gue sewa. Tapi beberapa bulan yang lalu dia pindah.
Jadi ya, kenal dekat. Saking dekatnya gue sering disuruh-suruh sama dia. 😂
Kebetulan, orangnya beragama Kristen.  Dan chat yang dia kirim gue begini bunyinya,
"Halo sensored... ikut demo gak??😄".
*sengaja nama panggilan gue, disensor.
Males banget kalo tau gue dipanggilnya apa sama dia.

Gue ngerasa, gak perlu lah ngebales chat itu.
Meskipun gue tau, dan gue gak bohong kalo dia gak suka sama Ahok. Tapi ngapain juga gue bales, gue ngerasa gak perlu untuk melakukan itu.

Sekitar jam satu, giliran bossnya kakak gue yang tinggal di kampung nelpon gue.
Jadi, kakak gue kan mandor di sebuah kebun sawit milik orang China, kristen.
Kenapa dia tau nomer gue, itu karena bulan kemaren kakak gue ke Bandung. Untuk menghadiri acara wisuda anaknya, gue juga ikut. Nah, ketika di Bandung. Kakak gue minjem ponsel gue buat nelpon Bossnya ini. Makanya  jadi tau nomer gue, rupanya di save juga sama beliau. Soalnya kalo ada apa-apa,  sewaktu di Bandung kemaren nelponnya ke nomer gue.

Cukup kaget lah ya, tiba-tiba bossnya kakak  nelpon. Padahal kan kakak gue udah balik dari lama. Awalnya gue enggan untuk menjawab panggilan telponnya, tapi kok gak sopan. Akhirnya gue jawab, makin terkejut.
Ternyata dia sengaja nelpon gue, untuk nanyain kondisi Jakarta bagaimana. Terkait dengan Aksi 4 November. Gue bilang aja, keadaan aman.

Yang gue tangkap dari obrolan diantara kami, beliau terkesan takut dengan Aksi 4 November kemaren. Selain itu, beliau seperti mengkhawatirkan keadaan gue di Jakarta juga. Duhhh... Senangnya ada yang mengkhawatirkan. 
Padahal emak gue aja cuek, kakak - kakak gue yang di kampung juga cuek. Hufftt... 😣

Padahal emak gue itu orangnya khawatiran. Asal ada apa-apa di Jakarta pasti langsung heboh. Apalagi kalo ditivi ada berita Jakarta kebanjiran. Duhh...susah tidur udah.
Tapi gue paham sih, emak sama kakak gue gak mungkin khawatir. Mereka pasti percaya, massa yang berkumpul di jakarta gak bakal bikin kerusuhan. Mereka pasti percaya, masaa yang turun ke jalan kemaren gak akan menimbulkan perpecahan. *Halah

Gue juga paham,  kayaknya sih.
Kenapa bossnya kakak sampai nelpon gue.
Beliau takut, itu beralasan ya.
Karena mungkin saja beliau trauma dengan kerusuhan 97.
Seperti yang kita tahu, saat kerusuhan itu terjadi orang-orang China banyak yang jadi korban. Beliau takut peristiwa tersebut akan terulang.
Padahal seharusnya  mereka gak perlu setakut itu, soalnya kemaren kan bukan demo anti China maupun Kristen.

Tapi menurut gue jadi gak beralasan banget,  kalo yang ketakutan itu sesama muslim.
Dari sebelum aksi 4 November kemaren, mereka sudah membual tentang persatuan.
Bahkan bawa-bawa sila ketiga, Persatuan Indonesia.  Dianggapnya, sila ketiga tersebut sudah mati.

Gue gak habis pikir, aksi kemaren itu bakal bikin perpecahan yang seperti apa?
Kemaren itu kan bukan demo anti China, juga bukan anti Kristen. Terus, perpecahan seperti apa yang bakal terjadi?

Gue jawab.
Justru perpecahan itu malah terjadi ketika, mereka yang menolak aksi 4 November kemaren. Justru mengolok-olok mereka yang setuju dengan dengan aksi 4 November.
Anggaplah mereka yang menolak itu benar, anggap loh ya. Lantas apakah sikap mereka yang mengolok-ngolok, mengejek, menyindir dan sebagainya itu sudah benar? Apakah karena mereka kecewa lantas bijak melakukan itu semua?

Yang ada, justru malah menimbulkan perlawanan dari pihak mereka yang setuju dengan aksi.
Boommmm..!!!
Pecah.
Perpecahan tuh disini, ketika mereka yang menolak aksi kemudian mengolok-olok mereka yang setuju dengan aksi. Maka terjadilah perlawanan. Saling serang, saling sindir, saling meluapkan kekecewaan, saling mencaci.
Perpecahannya tuh disini.

Kenapa kalian yang nggak setuju dengan aksi memilih untuk melawan mereka yang setuju?
Kenapa kalian nggak mengawasi jalannya aksi saja? Kan bisa ikut mengawal dan mendoakan agar aksi yang berlangsung bisa berjalan damai. Dan tidak menimbulkan perpecahan seperti yang kalian takutkan.
Bukankah kalian tidak ingin ada perpecahan?

Tapi Alhamdulillah ya, gue belum melihat potensi perpecahan seperti yang kalian takutkan. Kecuali perpecahannya tuh disini, diantara kita yang menolak dan setuju dengan Aksi 4 November ini.

Sabtu 5 November.
Sehari setelah Aksi 4 November, gue pikir  keadaan sudah tenang. Di lokasi demonstrasi sih iya. Tapi dijagat dunia maya, keadaan masih rusuh. Atau malah makin memburuk.

Ngerasa naif nggak sih? Kalian takut akan perpecahan, tapi malah entah sadar atau tidak  ikut terlibat aktif dalam terciptanya perpecahan itu sendiri.
Kalo di aksi yang pertama ribut masalah sampah dan mengakibatkan taman rusak. Di aksi yang kedua kemaren, ini yang diributkan. 
Ada sebuah video yang beredar, dimana seorang bapak-bapak, yang dengan lantang melakukan sayembara. Bahwa, barang siapa bisa membunuh Ahok akan di bayar satu milyar.  Padahal, itu kejadiannya bukan kemaren. Tapi saat ahok berkunjung ke Rawa Belong. Entah dalam rangka apa.
Kalo kita cari di YouTube,  ada kok.

Rusuh.
Banyak yang bersekulasi tentang ini.
Yang jelas, bukan FPI pemicunya.  Tapi HMI yang pertama kali menyerang polisi. Bahkan FPI yang kalian cap penuh kekerasan itu, malah ngelindungin polisi.
Tapi untuk video di televisi yang menunjukan bakar-bakaran. Berusaha membongkar pagar.
Dan seolah-olah para pendemo kemaren itu terlihat bengis. Kurang tau infonya gimana. 😂
Allahu a'lam, namanya juga udah kepancing.

Penjarahan.
Iya, ini sih yang paling jadi sorotan.
Dan yang ditakutkan orang-orang China, aku rasa.
Jadi di daerah penjaringan, ada massa tak dikenal yang memanfaatkan aksi 4 November kemaren. Ini nih yang menurut gue jelas-jelas "menunggangi". Mereka menjarah dan bahkan juga melakukan pembakaran.
Gue paling sedih disini, ada sebuah portal berita. Namanya Islam NKRI.com.
Nah, portal berita ini membuat judul berita yang gemesin banget.
"Salut Buat Demonstran FPI Anti Ahok Yang Berhasil Merusak & Menjarah Minimarket"

Kemudian,  oleh mereka yang menolak aksi. Sumber ini dipakai untuk menyerang mereka yang setuju dengan aksi. Sedih.. Perpecahannya tuh disini.
Padahal, POLRI memastikan bahwa kejadian itu tak ada hubungannya dengan massa pendemo.

Sayang banget, loh.
Islam NKRI.com ini punya slogan yang cukup keren sebenarnya. Yaitu, "Media kaum nasionalis."  Kita buka kamus besar bahasa Indonesia, apa itu nasionalis?
na·si·o·na·lis n 1 pencinta nusa dan bangsa sendiri; 2 orang yg memperjuangkan kepentingan bangsanya.
Sampai disini ada pertanyaan? *Halah
Kalo memang, Islam NKRI itu memperjuangkan kepentingan bangsanya. Bangsa yang mana?
Bukankah mereka yang menolak aksi dan mereka yang mendukung aksi adalah juga bangsa Indonesia?  Kecuali mereka yang gak punya e-KTP. Soalnya kalo gak punya, katanya warga ilegal. *Halah

Lantas kenapa membuat berita yang malah makin memecah bangsa. Tentu semua akan sangat membenci FPI jika memang merekalah yang melakukan aksi penjarahan. Tapi Alhamdulillah yah lah, sesuatu. 😊

Itu aja sih yang lumayan rame, setau gue.
Sama itu deng..
Bahkan setelah Aksi 4 November telah berlalu. Ternyata mereka yang menolak aksi masih tetap nyinyir dan melakukan sindiran-sindiran seperti saat sebelum Aksi 4 November kemaren berlangsung. 
Perpecahannya tuh disini..

Ayo kita ngomongin perpecahan.
Jauh sebelum masalah penistaan agama ini ada. Sadar gak sih kalo kita udah jadi bangsa yang terpecah? 
Udah kayak supporter bola, Persib vs Persija yang dimana aja rusuh. Bahkan, dikampung gue pun yang jauh dari Jakarta dan Bandung.  Tapi mereka masih aja rusuh. Padahal lampung loh. Duuhh...
Kapan ya, lampung punya tim bola yang bisa didukung berlaga di Liga Indonesia.  Biar The Jak lampung sama Viking lampung bisa melebur jadi satu. Terus kalo udah melebur jadi satu, Persilampung. Nanti kan bisa rusuh sama The Jak, Viking, Bonek dan yang lainnya. 😂
*Halah

Oke fokus.
Bangsa ini memang mudah dipecah belah,
apalagi di dunia maya. Sedihnya,  kadang kita cuma jadi korban asumsi atau opini orang yang kita anggap benar, atau yang sejalan dengan pemikiran kita. Sejauh yang gue tau, ada empat pasang yang sering mengeluarkan asumsi, opini. Tapi mungkin ada faktanya juga sih.
Allahu a'lam..

Orang-orang ini lantas seakan bisa mempengaruhi kita dengan pemikirannya. Kita lantas setuju, kemudian mempercayainya.
Yang pertama,  Jonru.
Bagi pihak yang gak suka, dia adalah tukang pecah-belah. Kemana-mana bawa piring, gelas, cangkir. *Plak
Tapi bagi pihak yang sepemikiran, mungkin dia adalah panutan. Pemikiran dan opininya bak embun diatas daun kelapa.  *apasih

Ada lagi, Fanspage namanya Propaganda Pemilu. Bagi yang gak suka, jelas-jelas ini adalah Fanspage nya orang - orang sakit hati. Yang gak bisa movember.
Tapi bagi yang suka, Fanspage ini adalah.. Adalah apa ya?  gue bingung. 😂

Nah, dua ini ada lawannya. Mereka saling serang. Menimbulkan perpecahan. Yang gue tau. Pertama itu orangnya suka banget ngopi,
Siregar nama belakangnya. 
Tulisan orang ini, pecah banget.
Bagi orang yang memuja kopi, eh. Memuja Siregar ini. Tulisan-tulisannya tuh ibarat Permen Blaster, pecah dimulut.  Lantas coklatnya meleleh, yummy.
Tapi bagi orang-orang yang gak suka, tulisanya tuh bikin panas. Panas.. Panas..panas..panas hati ini. Pusing pusing pusing pusing, pala berbie.

Setali tiga uang dengan Siregar.
Ada, ngakunya sih Ustadz. Namanya Janda dari Bollywood. 
Bagi yang pro, tulisan orang ini. Bak janda kembang. Menggairahkan..  *ah sial, jadi ero kan gue ngebayangin janda. 😍
Tapi bagi yang kontra.  Nah, bingung gue mau bilangnya. Imajinasi gue mati, rasanya gue ingin masuk ke ruang hampa. Kemudian keluar dari ruang hampa tersebut. Dan berubah jadi ganteng. 😎
*Yia'elah sampah banget

Nah, ke empat orang ini.
Menurut gue sih sumber perpecahan yang nyata.
Orang demontrasi gak bakalan bikin perpecahan kok. Sila ketiga juga gak bakalan mati hanya karena massa demo menuntut Ahok diadili. Jadi gak usah lebey, saya Islam. Saya cinta damai, gak ikut turun ke jalan. NKRI harga mati. Come on

Tulisan keempat orang  itu maut kalo menurut gue. Makanya kalo  nongol di timeline terus kebaca. Itu kayak bikin nyesek.  Tapi tulisan mereka emang keren sih, gak sampah kayak tulisan gue. Mereka juga orang-orang keren, bukan sampah kayak gue.
Tapi yakin deh, hidup kalian bakalan damai dalam bersosial media kalo tanpa membaca tulisan mereka. Setidaknya gue syudah membuktikannya. 
Tapi kalo ternyata setelah menyembunyikan kiriman dari mereka hidup kalian masih belum damai. Mungkin karena time line kalian dipenuhi foto mantan sama pasangan barunya. *halah

So, masih mau jadi korban asumsi orang?
Damai itu indah loh.  Gak kangen apa sama sosial media yang bebas dari Politik, bebas dari Mr. Know it all.  Bebas dari foto-foto nikahan, iya. Foto-foto nikahan orang yang kadang bikin baper itu. 😂😂

Sampailah di penghujung tulisan ini.
Tapi rasanya kok, gue cenderung memihak ya.
Tapi memang benar sih, gue adalah salah satu dari mereka-mereka yang pro dengan Aksi 4 November kemaren.

Gue gak naif, kemungkinan demo kemaren disusupi oleh kepentingan politik memang terbuka lebar. Tapi mari  mencoba berfikir  positif. Lagipula  Suudzon kan juga ndak baik toh. Pokoknya mari berfikir positif. Walaupun kadang berfikir positif sama membohongi diri sendiri itu beda tipis. *eaaa

Aksi kemaren kan massanya banyak banget tuh. Dateng dari berbagai daerah. Apa kalian masih berfikir bahwa itu adalah massa bayaran?  andaikata iya. Yakinlah, tidak semuanya.

Banyak ulama terpandang yang ikut dalam aksi kemaren. Apa kalian masih berfikir bahwa itu adalah untuk kepentingan politik? Andai kata iya. Yakinlah, bahwa kelak mereka bakalan menerima balasannya. 😊
Note, please jangan ngeliat massa kemaren itu FPI semua. Kalian pasti udah nandain soalnya, pake stabilo warna Hitam. FPI benci banget  sama Ahok.

Aksi kemaren juga nggak cuma terjadi di Jakarta saja. Tapi ada juga yang melakukan aksi serupa di Sumatera Utara, Lampung, Makassar hingga Sidoarjo.  Masih skeptis juga bahwa ini demo kepentingan politik?

Banyak yang terpanggil untuk berpartisipasi dalam demo kemaren. Salah satunya adalah dengan memberikan bantuan logistik. Nah, sekedar cerita.  Istrinya boss tetangga gue, dia gak punya kepentingan apa-apa. Dia bukan orang politik, suaminya bukan, saudara juga gak ada. Tapi dengan ikhlas kemaren ikut terlibat dalam memberikan bantuan makanan.  Subhanallah.. 
Masih berfikir massa di kasih nasi kotak dan duit?
Nasi kotak mungkin sih, tapi dari relawan. Bukan seperti kampanye. 😂
Nah kalo duit, Alhamdulillah belum liat ada yang nyebarin berita macam ini. Dan semoga aja gak ada sih.

Sekian,  tulisan dari saya.
Memang sampah sih. Tapi kalo bijak dalam mencari esensinya, mungkin  bisa menemukan sedikit kompos dari tulisan sampah ini. Daripada tulisan emas, tapi kalo ditelan bulat-bulat ya jadinya sampah-sampah juga toh.
Salam damai.

Oh iya lupa.
Terkadang suka bingung, kalo manggil orang China itu gimana. Soalnya kalo manggil china, Kesannya jadi orang china tuh bukan orang Indonesia gitu. Padahal mereka kan juga WNI.
Masa iya, harus manggil orang china yang udah jadi WNI. Ribet banget.

Tapi kalo nggak dibilang china, ntar jadi bingung. Gak spesifik.
Nah, kalo ada yang manggil china. Itu bukan rasis. Sungguh..
Karena gue pun juga  dipanggilnya orang jawa, padahal lahir dilampung. Kalo manggil orang medan juga. Gue manggilnya orang medan. Pun dengan daerah lain, panggilnya ya tergantung daerahnya. Gitu deh,  persatuan di Indonesia. Jadi jangan ngerasa rasis kalo di panggil china. ☺
Sekali lagi, demo kemaren bukan demo anti china, loh ya. Juga bukan demo anti kristen. Alhamdulillah sejarahnya, belum ada di Indonesia umat Islam demo anti Kristen. Meskipun mayoritas juga. Sedangkan di luar negri udah ada demo anti Islam.  Di Myanmar juga ada pengusiran dan pembantaian Umat Islam. Alhamdulillah Islam di Indonesia cinta persatuan. 
*Halah

Komentar

  1. Kekhawatiran yang sama denganku, namun semoga masyarakat bisa saling menghormati ya gan

    BalasHapus
  2. Haik...
    Berbeda sudut pandang dan pendapat adalah hal yang wajar. Tapi jangan sampai saling mengolok- olok. 😢

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Toko Buku Bekas di Ciledug

My Dol, Aplikasi yang bikin gue tambah ngenes

Kakak ade'an (kakak kakaan adek adean)