Gak Mungkin Gue Nijikon

Nijikon merupakan kependekan dari nijigen kompurekkusu (kompleks 2 dimensi). Sebuah istilah slang dalam bahasa jepang yang digunakan untuk merujuk pada seseorang yang terobsesi dan memiliki rasa cinta kepada salah satu atau lebih karakter dalam anime, manga dan video game serta action figure dari karakter tersebut. Karakter dua dimensi tersebut akan dianggap sebagai pasangan dari orang yang mengalami sindrom Nijikon.

Toshio Okada, seorang produser anime, penulis, dosen dan juga adalah co-founder serta mantan presiden perusahaan produksi Gainax, dalam salah satu bukunya. Otaku no mayoi michi [Lost Path Otaku], menggunakan kata Nijikon pada orang yang kurang populer dengan lawan jenis yang dalam beberapa kasus disertai dengan ketakutan dan kebencian terhadap keberadaan manusia tiga dimensi baik dari jenis kelamin yang sama maupun lawan jenis. Juga memiliki sikap yang menarik diri dan sulit bersosialisasi atau didiaknosis sebagai Anthropophobia [Takut pada orang atau masyarakat ].

Ketika seseorang menjadi penderita Nijikon yang parah, ia hanya merasakan perasaan cinta terhadap karakter dua dimensi dan sama sekali tidak menunjukkan minat terhadap orang nyata.

Tidak semua Otaku (sebutan untuk orang yang memiliki ketertarikan terhadap anime dan manga) adalah Nijikon. Otaku sendiri tidak pernah mengaku dirinya menderita Nijikon.  Walaupun mayoritas Nijikon berasal dari kalangan otaku.

Seorang otaku jepang berumur 27 tahun dengan username Sal 9000 menikahi karakter Nene Anegasaki dari game virtual dating love plus pada konsol Nintendo DS. Pernikahannya disiarkan secara langsung di Internet. Sal 9000 yang memakai Tuxedo putih membawa konsol video game portable-nya yang menampilkan Nene. Setelah mengucap sumpah, Sal lalu mencium pengantinnya di depan ribuan penonton online.

Di Korea, Lee Jin-gyu menikahi Dakimakura miliknya. Dakimakura adalah bantal besar yang menampilkan gambar karakter anime. Dalam upacara pernikahannya, Jin-gyu menghiasi bantal tersebut dengan gaun pengantin dan berdiri di hadapan pendeta.

Sementara di Bikini Bottom, seekor bintang laut temannya Spongebob yang bernama Patrick. Kedapatan menikahi sebuah tiang lampu jalan. *Halah

Takeshi Shudo, penulis kolom WEB Anime Style menyatakan bahwa Nijikon adalah masalah berekspresi yang berkembang menjadi ancaman. Biasanya seseorang yang menderita Nijikon akan sulit untuk kembali menjadi normal lagi.

Ciri-ciri yang bisa terlihat dari seorang penderita Nijikon:

1. Mengaku-ngaku sebagai pasangan Husbando(Suami)/Waifu (Istri)  dari karakter anime /manga yang disukainya.

2. Mengubah nama aslinya dengan menghubungkan namanya dengan karakter anime /manga favoritnya, atau bahkan mengubah namanya menjadi nama yang berbau jepang.

3. Memasang foto karakter anime/manga favoritnya di situs-situs jejaring sosial sebagai foto utama. Bahkan biasanya ditambahi embel-embel yang menyatakan kecintaanya terhadap karakter tersebut.

4. Rela menghabiskan uangnya untuk membeli barang-barang yang berkaitan dengan anime/manga favoritnya.  Biasanya berupa action figure, poster, manga, artbook, T-shirt, gantungan kunci, dll.

5. Menghabiskan waktunya untuk menonton anime, membaca manga atau memainkan game-game yang berkaitan dengan karakter anime/manga favoritnya.  Cenderung kurang bersosialisasi di dunia nyata. Kalaupun bersosialisasi mungkin hanya dengan sesama penggemar anime/manga atau dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama.

6. Biasanya belum memiliki pasangan dan tidak tertarik dengan manusia nyata.

7. Sering melamun dan selalu beranggapan bahwa karakter favoritnya ada didekatnya.

8. Merasa benci terhadap karakter lain yang dekat dengan karakter yang disukainya.

*Tulisan ini saya salin dari majalah Animonster volume 142 yang terbit Januari 2011.

Keresahan saya kali ini, *Cie'lah
Bermula dari tindakan spontan saya yang dengan begonya merubah username Facebook menjadi Gokou Ruri. Tak cukup sampai disitu, bahkan saya juga mengganti foto profil dan foto sampul dengan fotonya Gokou Ruri. Wallpaper di ponsel pun juga nggak ketinggalan, saya ganti pakai fotonya Gokou Ruri.

Gak habis pikir kenapa saya bisa melakukan hal itu. Padahal, diperlukan waktu 60hari untuk bisa mengganti username Facebook lagi. 😂

Bukan tanpa sebab juga sih.
Kemarin itu tiba-tiba ngerasa kangen banget sama Gokou Ruri a.k.a Kuroneko.
Gokou Ruri merupakan karakter fiksi dari anime Ore no Imouto ga konnani kawaii wake ga nai. Karena ribet, disingkat jadi Oreimo.
Oreimo adalah anime yang paling berkesan dalam tanda kutip bagi saya sejauh ini, selain Re-Life dan Danna ga Nani o Itteiru ka Wakaranai Ken.
Gokou Ruri merupakan karakter anime cewek yang paling saya inginkan andaikan bisa jadi kenyataan.  Susah ngejelasin alasan kenapa saya sampai segitunya, toh bukankah cinta memang tidak butuh alasan. *Halah

Kayaknya  ada hubungannya sih dengan game yang lagi saya mainin. Jadi ada sebuah game yang sebenarnya ngebosenin, tapi bikin penasaran gitu. Saya penasaran karena  sudah gagal berkali-kali.  Nah di game tersebut,  saya girang banget karena bisa beli poster Oreimo yang mana di poster tersebut ada Gokou Rurinya. Bahkan saya juga sudah bisa beli Dakimakura Gokou Ruri, tapi sayangnya keburu game over sebelum Dakimakura tersebut dikirim. Ceritanya beli online gitu.

Kemarin pun, saya sampai ngecheck action figurenya di situs belanja online. Andaikan bisa bayar di tempat,  pasti udah saya beli. Soalnya ada Action Figurenya Gokou Ruri yang harganya gak mahal-mahal banget. Tapi beruntung sih, karena gak bisa bayar ditempat makanya saya gak jadi beli. Dalam keadaan nggak khilaf, saya jadi bisa mikir. Meskipun benda-benda seperti itu adalah moodbooster, tapi bukanlah merupakan sebuah prioritas. Masih banyak kebutuhan lain yang harus di prioritaskan. Bayar hutang misalnya. :'D
Karena sebaik-baik kamu adalah yang paling baik dalam membayar hutangnya. (HR. BUKHARI)
*Dih.. Si om

Padahal sebenarnya udah lama nggak terlalu kecanduan nonton anime. Gara-garanya memori ponsel udah penuh.
Terakhir nonton Aho Girl karena penasaran, kayaknya lucu. Habis itu juga langsung saya hapus.
Sebelum Aho Girl saya nonton Boruto karena kepo. Itu juga akhirnya berhenti di episode berapa gitu karena enek, gak tahan ngeliat ninja konoha yang keren-keren itu hanya di jadiin pecundang oleh generasi ninja terburuk. :'D
Beberapa anime full episode yang udah saya download juga nggak saya tonton.

Tapi meskipun begitu, saya masih tetep suka sama anime sih. Kalau liat gambar anime juga masih suka ijo matanya. 😂
Lebaran kemaren aja pas dikampung, saya mungut amplop kecil di jalan. Hanya karena ada gambar Doraemonnya. Udah gitu saya bawa pulang, terus ikut saya bawa pas balik ke Jakarta.

Kembali ke masalah Nijikon.
Apakah saya termasuk penderita Nijikon?
Jawabannya adalah tidak, tidak mungkin.
Memang benar saya mempunyai hampir semua ciri-ciri seorang penderita Nijikon.
Mulai dari mengaku sebagai pasangan karakter dari anime. Nggak jarang bahkan sampai rebutan sama temen saling meng-klaim. Tempo hari malahan saya rebutan Uchiha Sasuke.  Bahkan saya sampai rela mengaku menjadi Okama (Waria). Iya tapi itu sih karena cuma pengen bikin kesel orang aja sih. 😂

Mengubah nama asli,  sudah sering saya lakukan.

Memasang foto karakter anime sebagai foto profil, itu udah saya anggap sebuah kebiasaan malah. 😂

Menghabiskan waktu untuk nonton anime karena ada karakter favorit,  Oreimo saya selesaikan hanya dalam waktu 2 malam kalau gak salah.

Biasanya belum memiliki pasangan, iya tentu saja. Beberapa orang bahkan melabeli saya sebagai JONES akut. Padahal saya adalah Jomblo Syariah, bukan Jones.

Tapi ada tiga ciri-ciri  paling terlihat pada seorang penderita Nijikon, yang tidak satupun yang saya miliki.

Merasa benci terhadap karakter lain yang dekat dengan karakter yang disukainya, saya nggak pernah kayak gitu. Nggak pernah sama sekali.

Sering melamun dan selalu beranggapan bahwa karakter favoritnya ada di dekatnya, saya emang sering ngelamun. Bahasa kerennya pergi ke suatu tempat yang hanya saya sendiri yang tau. Tapi saya nggak pernah sekalipun beranggapan bahwa Gokou Ruri, Hyuga Hinata atau karakter anime yang lain ada di dekat saya.

Yang terakhir ini  paling gak mungkin saya lakukan, rela menghabiskan uang untuk membeli sesuatu yang berkaitan dengan karakter anime yang disukai.  Boro-boro ngabisin, beli Action Figure 150K aja saya nyerah. 😂

Selain NIJIKON, masih ada tiga lagi penyakit sosial yang biasanya diidap oleh Otaku. Nggak semua otaku loh ya, hanya mereka yang imannya lemah saja yang bisa terjangkit penyakit sosial ini. *nggak ding, bercanda.

CUUNIBYOU.
Chuunibyou atau sindrom kelas 2 SMP.
Disebut sindrom kelas 2 SMP karena biasanya menjangkit anak-anak yang menginjak umur 14 tahun atau kelas 2 SMP.

Orang yang terjangkit chuunibyou  biasanya memiliki tingkah laku sesuai dengan imajinasinya. Mereka melakukannya karena mereka benar-benar percaya demikian. Biasanya penderita Chuunibyou akan sembuh begitu menginjak dewasa, tetapi dalam kasus tertentu, ada juga pasien Chuunibyou yang terjangkit hingga dewasa.

Saya pernah mengidap penyakit sosial ini, tapi justru ketika masih kelas 5SD. Waktu itu di sekolah, kemana-mana membawa patahan jangka dari kayu yang bentuk dan panjangnya mirip pedagang milik Aoshi. Salah satu samurai musuhnya Kenshin di anime
Samurai-X. Waktu itu rasanya udah kayak samurai beneran. Tapi kayaknya itu bukan chuunibyou sih, namanya juga masih anak kecil. 😂

WIBU.
Wibu adalah mereka yang mendewakan segala sesuatu tentang Jepang. Pokoknya segala sesuatu tentang Jepang menurut mereka adalah yang terbaik.
Jika ada yang berani sedikit saja mengkritik sesuatu tentang Jepang, pasti mereka bakalan maju ke garis depan dan membelanya mati-matian.

Bersyukur Anime mulai rame di Indonesia setelah Indonesia merdeka dari penjajahan Jepang. Kalau misalkan sudah rame dari jaman sebelum penjajahan, mungkin bakalan berat banget perjuangan para pahlawan untuk memerdekakan negara ini. Soalnya mereka nggak hanya melawan para penjajah, tapi juga melawan bangsa sendiri yang sudah menjadi Wibu garis keras. 😂
*Halah

HIKIKIMORI.
Hikikimori atau menarik diri dari kehidupan sosial. Penderita hikikimori  mengisolasi dirinya dalam kamar dalam jangka waktu yang sangat lama. Tipikalnya, pelaku Hikikomori tenggelam dalam tayangan televisi atau komputer di dalam kamar hingga hampir-hampir tidak pernah tidur. Perilaku ini dapat berujung pada gangguan psikologis seperti schizoprenia.

Saya pernah seperti ini, ketika terkena demam Drama Korea. Nonton Drama Korea itu, kalau hanya per episode cuma bikin penasaran. Apalagi episodenya kan banyak banget.
Makanya kalau lagi nggak kerja, jadi sering mengurung diri dikamar, nonton secara maraton. 😂

Hikikimori nggak sesimple itu sih, mereka menarik diri dari kehidupan sosial biasanya karena rasa trauma yang hebat yang dialami  saat berada di masyarakat sosial.

*source, duniaku.net

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Toko Buku Bekas di Ciledug

My Dol, Aplikasi yang bikin gue tambah ngenes

Kakak ade'an (kakak kakaan adek adean)