Lampung KTP

Ada beberapa pertanyaan sepele yang sebenernya bisa dijawab dengan mudah. Tapi karena satu dua alasan menyebabkan beberapa orang nggak bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan mudah.

Bukan....
Ini bukan tentang pertanyaan mainstream yang kadang bisa menjadi salah satu perusak suasana saat kumpul pas lebaran, "Kapan Nikah?"
Gue sih kalau ditanya gini gampang aja jawabnya, "Iya nih, masih Inden".
Jawaban itu lebih baik ketimbang  "Belum Siap".
Soalnya kalau bilang belum siap, nanti malah bakalan diceramahin panjang lebar. Tapi kalau udah  bilang inden, ya masak mereka masih tetep bakalan nyinyir sih?
Namanya Jodoh kan udah diatur sama Tuhan, yang penting udah inden. Tinggal nunggu aja dikasihnya kapan. 😂

Atau gue juga bisa jawab dengan alasan Zodiak. Aries,  katanya merupakan zodiak yang punya banyak keinginan dan ingin terus berkembang disetiap saat. Tapi hal itu justru membuat mereka sulit mendapatkan pasangan.
Aries cukup sulit mencari pasangan yang memiliki pemikiran dan juga sikap yang sama dengannya. Namun meski begitu Aries lebih suka mengikuti pasangannya, sebab mereka tak mau mengecewakan orang tercinta. Walau begitu, Aries tetap bahagia menjomblo.

Menurut gue kedua jawaban ini udah paling pas. Kalau mereka masih tetep nyinyir juga, baiknya ditenggelamkan aja sih. 😏

Gue lebih kesulitan kalo ditanya  "Kamu orang mana?".
Aneh kan?
Yaiyalah...kalau nggak aneh, mungkin gue udah jadi orang sekarang ini. 😏
*Emang sekarang babi ya om?

Pertanyaan tersebut sulit dijawab karena  sendirinya aja bingung.
Gue itu orang Jawa yang lahir di Lampung.
Tapi nggak bisa bahasa Lampung.
Satu-satunya kalimat dalam bahasa Lampung yang gue paham betul cuma "Nyak Buguh Jamo Niku" doang.
Artinya "Aku cinta sama kamu".
Guru SD gue ngajarin banyak, tapi yang keinget banget cuma itu. Mungkin lantaran waktu itu ngajarnya sambil becandaan.
Tapi kalau aksara Lampung sih paham, meski karena terpaksa. Dulu waktu SD  murid yang nggak bisa baca tulis Aksara Lampung harus berdiri di depan kelas. Bagi gue, di strap gara-gara gak bisa dalam pelajaran. Artinya itu adalah aib.
*Halah

Pas denger nama Lampung,
kebanyakan orang akan langsung kepikiran sama Begal, Andika Babang Tamvan, atau nggak Gajah Way Kambas.
Kenapa sih yang diingat cuma itu aja?
Kenapa? Nggak semua orang Lampung itu Begal kok. Ada yang jadi Maling, Rampok, maupun Tukang Pungli. 😂

Babang Tamvan adalah simbol ketampanan orang Lampung. *please, jangan somasi gue*
Tercatat dia sudah pernah menikah siri sebanyak 3kali. Hal yang bahkan Indra L Brugman, Indra Herlambang juga Baim Wong nggak pernah bisa lakukan. Padahal mereka bertiga kurang tampan apa coba?
Tapi masih kalah kalau dibandingkan dengan babang tamvan.

Dan Gajah, gak cuma Way Kambas loh. Di Lampung ada Teluk Kiluan, tempat dimana kita bisa menjumpai ikan yang ramah, lucu, periang dan juga suka menolong tapi ternyata punya sisi gelap dalam perihal syahwat, Lumba-lumba.

Dikatakan dalam bukunya Sujiwo Tejo yang berjudul "Rahvayana". Ikan Lumba-lumba adalah hewan yang gemar memperkosa, selain Lumba-lumba betina mereka juga kadang memperkosa yang lain hingga kura-kura sekalipun.
Ketika gue Googling, ada fakta yang lebih mencengangkan lagi. Dalam sebuah portal berita, diberitakan bahwa ada seekor Lumba-lumba jantan yang mencoba memperkosa seorang penyelam wanita.

Gilak...
Untung aja Aquaman (Arthur Curry) itu bukan sejenis ikan Lumba-lumba, seandainya dia adalah ikan Lumba-lumba. Mungkin film Superhero DC Comics yang satu ini bakalan jadi film porno.
Atau mungkin, sebenarnya si Aquaman itu adalah anak dari hasil perkosaan yang dilakukan oleh Lumba-lumba jantan pada penyelam wanita.

😱

Kebanyakan orang cuma taunya hal-hal yang buruk aja, begal.
Padahal Lampung juga jadi kebanggaan Indonesia loh.
Udah pada tahu belum kalau Kopi Lampung itu terkenal banget? Pasti udah tau lah ya. Saking terkenalnya bahkan seorang maestro campur sari sekelas Didi Kempot aja pernah bikin lagu judulnya Kopi Lampung.
Tapi tau juga nggak kalau Pisang asal Lampung terus mendunia?
Setelah mengekspor pisang Cavendish sejak 1993 ke berbagai negara, pada April 2018 yang lalu Indonesia mulai mengekspor pisang mas Tanggamus yang sekarang digadang-gadang jadi komoditas andalan baru ekspor.

Komoditas hortikultura Lampung telah mencatat sejarah baru, khususnya pisang mas Tanggamus yang mampu menembus pasar ekspor global yang awalnya ke China. Prestasi ini menambah jenis ekspor pisang Lampung yang pada awalnya didominasi oleh pisang Cavendish. Negara tujuan ekspor pisang tersebut adalah Korea Selatan, China, Jepang dan Timur Tengah.

Lampung punya 2 jenis pisang ekspor andalan yang sudah mendunia sekarang ini, Pisang Cavedish dan Pisang Mas.
Oh iya, kalau ke Lampung jangan lupa beli oleh-oleh kripik pisangnya. Enak banget asli, pilihan rasanya juga banyak banget. Iya walaupun sebenernya aneh juga sih. Ngapain coba makan keripik pisang rasa strawberry atau melon? Padahal kan bisa langsung aja makan strawberry atau melonnya langsung.

Tau merk Sunpride?
Tau Pisang Sunpride?
Taulah pasti. Soalnya buah ini bisa kita temui di Super Market maupun Mini Market seperti Indomaret. Itu jenis pisang Cavedish asli Lampung loh. Keren kan? Tampilan dan merknya seperti pisang impor.
Kalau kata Upin-Ipin, makan buat tempatan (lokal) itu penting.
Nah, marilah kita banyak-banyak mengkonsumsi produk lokal. Jangan mau kalah sama Upin-Ipin.

Bagi para pelaku Vandalisme, Lampung menurut gue juga merupakan surga bagi mereka. Kenapa? Karena di Lampung banyak bangunan nganggur. Salah satunya adalah Kota Baru Bandar Lampung.  Lebaran tahun kemaren, selepas nonton Spiderman Home Coming di Mall Boemi Kedaton. Gue mampir kesana, parah banget.
Vandalisme dimana-mana.
Mulai dari tulisan narsis, promosi cari pacar, ungkapan cinta yang sebenernya adalah tindakan begok, luapan patah hati, ejekan dari cowok sakit hati sama cewek yang kata-katanya nggak senonoh. Sampai gambar yang cukup vulgar pun ada disana.

Meski lahir dan tinggal di Lampung, tapi gue sama sekali nggak pernah ikut dalam pemilihan Gubernur, Bupati, Calon legislatif bahkan Kepala Desa sekalipun. Bukan karena gue penganut Golput. Golput itu nggak baik, karena jika kita nggak menggunakan hak pilih kita. Maka kita tidak ikut menjadi salah satu penggerak perubahan. Tapi kalau pilihan kita salah, berarti kita ikut menjerumuskan negara  dan kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh generasi berikutnya. Serba salah ya?
Mendingan golput aja ding.
*Halah

Nggak nggak..
Nggak gitu, gue nggak pernah ikut milih karena gue mudik ke Lampung cuma setahun sekali pas lebaran Idul Fitri doang. Itupun sebenernya kadang juga males. Pengen mudik ketempat mbah yang di Jawa, emak nggak ngijinin.
Kalau mudik ke tempat istri sih pasti diijinin, tapi masalahnya. Gue belum beristri.
Kadang tuh jadi suka envy sama rang-orang yang punya dua tujuan mudik, rumah ortu dan rumah mertua.
😂

Salah satu alasan yang bikin gue males mudik ke Lampung adalah karena hampir selalu mengalami hal-hal ngeselin.
Pernah beberapa kali harus berdiri di dalam bus, mulai dari Jakarta sampai Pelabuhan Merak. Bahkan ada satu kejadian horror ketika gue dibohongi sama Kondektur bus yang akan gue naiki, katanya masih banyak tempat duduk. Pas gue masuk, dari depan jalan ke belakang mencari tempat duduk ternyata nggak ada yang kosong. Bagian horornya adalah, ketika gue masuk tadi. Itu semua mata tertuju ke gue, rasanya kayak diintimidasi. Tatapan mata mereka menakutkan, seolah-olah kayak gue itu adalah calon mangsa buat mereka. 😂
Di lain waktu ketika akhirnya dapet tempat duduk, kok ya kebetulan setelah  jalan. Ternyata air AC mobilnya bocor, terus netesin kepala gue.
Amsyong bener da'ah.

Duduk disamping sopir pun pernah, beneran duduk disampingnya, tanpa kursi. Tau sendiri kan kursi sopir bus cuma dirancang untuk satu orang. Dan tiap kali si sopir ini mindahin persenelingnya, tangannya selalu nempel ke paha gue. Karena posisinya yang emang sempit dan kaki gue cukup panjang. Untung aja gue nggak pake celana gemes, gak bisa bayangin gimana jadinya kalau sopirnya khilaf karena ngeliat paha mulus gue. Terus dia gerayangin paha gue kayak di sinetron-sinetron absurd gitu.
Duhh..

Ketika Jakarta - Merak udah aman, masih ada kapal. Paling males kalau naik kapal. Nggak ada yang enak dari kapal, bikin perut mual, kepala pusing, toiletnya juga bau banget. Belum lagi kalau ndilalah harus nunggu antrean dermaga.  Perjalanan kapal dari Merak-Bakauheni sejatinya nggak lama, hanya sekitar 2 jam. Tapi kadang nunggu antrean agar bisa bersandar di dermaga bisa sampai 1 jam sendiri. Cuma bisa ngeliatin pelabuhan, tapi gak bisa bersandar.
Semua emang ada waktunya sih, sedekat apapun. Kalau  belum waktunya ya nggak bakalan bisa bersanding di pelaminan.
*Yia'elah

Tapi perjuangan paling berat adalah ketika nyari bus tujuan Pelabuhan Bakauheni ke Terminal Rajabasa.
Pas musim mudik, sebanyak apapun bus yang ada. Rasanya gak pernah cukup karena diserbu banyaknya pemudik hingga harus berebut.
Ngeliat orang dorong-dorongan tuh males banget rasanya
Pernah gue nyoba ngalah.
Niatnya nungguin biar calon penumpangnya berkurang. Tapi sia-sia, kalau gue nunggu calon penumpang berkurang. Bisa-bisa sampai Shalat Ied baru sepi. Karena kapal nggak pernah berhenti memuntahkan para pemudik. Jadi mau nggak mau ya harus ikutan berebut agar bisa naik bus ke Terminal Rajabasa.

Bersyukur Terminal Rajabasa sekarang udah aman dan nyaman. Padahal dulunya terkenal sangat rawan. Pernah mengalami dua kali kejadian yang nggak menyenangkan ditempat ini. Pertama kali ke Jakarta, gue sama temen dan kakak di giring ke loket oleh gerombolan calo. Lalu diintimidasi agar naik bus Antar Lintas Sumatera (ALS). Dengan terpaksa akhirnya kami nurut, tentu saja bayarnya lebih mahal. Sudah begitu busnya juga nggak enak.


Sejak kejadian itu, tiap kali berada di Terminal Rajabasa rasanya tuh takut dan nggak nyaman.
Tapi kejadian yang paling buruk adalah ketika gue mendapatkan pelecehan oleh tukang ojek cabul disana. Itu ngeri banget asli. 😭

Pokoknya drama bangetlah kalau mudik ke Lampung tuh. Ada aja hal yang nggak nyenengin, bus mogok ditengah perjalanan pernah. Lampu busnya mati sehingga jalannya harus pelan-pelan juga pernah. Dan yang pasti, ketika naik bus Bakauheni - Rajabasa atau sebaliknya. Bus selalu diisi penuh hingga jalan ditengahnya aja ditambah kursi lagi over kapasitas. Sampai-sampai harus umpel-umpelan kayak ayam.

Mudik tahun ini pun gak lepas dari drama.
Sesampainya di Terminal Rajabasa gue kan nunggu bus Damri yang kerumah, hampir 3jam tapi nggak dapet juga. Akhirnya sekongkol tuh sama 2 keluarga yang juga sama-sama lagi nunggu Damri, gue yang order Grab tapi nanti bayarnya patungan. Ditengah jalan, kok rasanya ada yang nggak beres. Ternyata benar, ada miskomunikasi, salah satu keluarga punya tujuan yang berbeda. Meskipun nama desa tujuan kami sama, nyatanya beda daerah.
Pantesan arahnya berlawanan, gue juga diem aja dari awal karena katanya dia tau jalan pintasnya. Tapi ternyata malah beda tujuan.
Menyadari ada kesalahan, akhirnya satu keluarga tersebut kami lempar keluar dari mobil dan membiarkannya dimakan ular berkepala cacing.
Pada akhirnya gue sampai juga dirumah, tapi harus mengeluarkan uang ekstra karena kasihan sama driver Grabnya.

Lebaran tahun kemaren chaosnya malah waktu balik ke Jakarta. Gara-gara Damri juga, sekitar dua jam nungguin tapi gak ada yang lewat. Dan nggak kayak di bandung yang perasaan teh jalanan isinya angkot semua.
Di Lampung, khususnya tempat gue. Nggak ada angkot sama sekali.
Karena gak sabaran akhirnya milih gak jadi berangkat, tapi karena malu. Gue memilih jalan kaki berdua sama keponakan lewat ladang. 
Beruntung ketemu mobil pick up yang mau muat pupuk, terus gue diijinin ikut naik.
Lumayan, separuh perjalanan gue lalui dengan naik mobil tumpangan. Turun dari mobil kan ngelanjutin jalan, eh malah ketemu sama temennya keponakan. Mereka adalah para pemburu jaringan 4G.
Tempat gue itu aneh, hanya spot-spot tertentu aja yang jaringan internetnya bagus. Gue aja kalau di dalem rumah nggak bisa internetan sama sekali, padahal pakai simpati.
Karena ke gap, gue malu kalau ketauan gak jadi balik gara-gara ngambek kelamaan nunggu bus. Yaudah gue bohong, ngaku kalau dompetnya ketinggalan. Mereka percaya,
akhirnya gue dianterin pulang naik motor. Perfect..

Status kelampungan(?) gue diuji.
Saudara dari jawa pernah nanya, "Kalau misalkan Jawa sama Lampung perang, kamu bakalan ikut di pihak mana?"
Padahal cuma pertanyaan iseng doang, tapi bahkan sampai sekarang pun gue gak bisa jawab.
Kesannya nyari aman ya?
Nggak kok, sejujurnya meskipun asli lahir di Lampung. Tapi gue cenderung milih berada di pihak jawa sih.
:'D

Komentar

  1. hahaha, maafkan. Aku juga kalau denger kata lampung yang teringat cuman Gajah, Way kambas. maklum oikirannya kalayapan mulu. klo bamabang tamvan itu...NGGAK!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahaha...
      Bisa dimaklumin sih, soalnya way kambas emang cukup terkenal. Asal jangan langsung teringatnya "Begal motor" aja sih. 😂😂

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Toko Buku Bekas di Ciledug

My Dol, Aplikasi yang bikin gue tambah ngenes

Kakak ade'an (kakak kakaan adek adean)