Cacatan Hati

Beberapa minggu ini, gue ngerasa dipermainkan oleh mood sendiri. Tidur juga jadi sering sampai larut malem, tapi gak produktif. Bahkan untuk sekedar nonton film aja enggan rasanya. Padahal masih banyak film dan anime yang udah didownload, tapi belum ditonton sama sekali.

Lalu ngapain gue tidur larut malem padahal nggak menghasilkan apa-apa?
Entahlah, yang jelas rasanya mood gue cenderung buruk dan gue ngerasa males untuk tidur. Padahal gue cuma bengong doang. Dngerin lagu-lagu melow gratisan dari Spotify, melototin foto-foto orang di Instagram. Udah gitu-gitu doang.

Sama sekali gak produktif.
Padahal gue ada challenge nulis mingguan. Sudah mendekati waktu untuk posting, tapi gue belum bikin sama sekali. Sepertinya gue bakalan kena hukuman pada akhirnya. Tapi toh, hukumannya ringan. Gue sendiri yang di awal perjanjian nentuin bentuk hukumannya. Licik kan gue?
Banget.

Bukan tanpa usaha.
Sebenernya gue udah cukup berusaha, kayaknya.
Bahkan gue sampai niatin belajar bikin puisi. Iya walaupun pada akhirnya, ketika gue mulai mencoba menulis. Terhenti hanya sampai di baris ketiga, kemudian menyerah.
Iya, ketika mulai baca-baca tentang  membuat puisi di internet. Gue lebih tertarik membaca kehidupannya Chairil Anwar ketimbang cara membuat Puisi soalnya. Dan pada akhirnya gue gak tertarik sama sekali dengan puisi. 
Padahal, mungkin saja gue bakalan gampang memikat lawan jenis andaikata jago bikin puisi.

Pas lagi bengong..
Gue mikir,  gue kenapa ya?
Kok kayak ngerasa seperti mayat hidup.    Pas lagi bercermin pun, biasanya bayangin di cermin akan mengatakan seperti ini padaku, "you rock..!!!". Tapi beberapa minggu ini, tiap gue bercermin.  Gue melihat sosok  pemuda suram yang balik menatap iba ke gue.

Sempet berfikir ini adalah gejala karena gue kurang piknik. Tapi nggak ah, mengingat gue sebelumnya emang jarang piknik tapi biasa aja.
Mungkin gue udah jadi budak digital?
Sempet yakin inilah penyebabnya.
Tapi bukan deh.
Lalu apa?
Apa?
Apa?
*ini gema?

Malam ini, kayaknya gue tau apa penyebabnya. 
Rindu.
Iya, gue merindu.
Kenapa  bisa yakin?
Itu karena gue ngebaca sebuah fakta  di internet, katanya ketika mood memburuk tanpa alasan yang jelas, kemungkinan kamu sedang merindukan seseorang.
Dan, kayaknya  emang iya sih.

Aku merindumu
Iya merindumu
Sungguh merindumu

Aku minta maaf jika bulu mata kamu habis karena rontok setiap hari
Kata orang, jika bulu mata rontok berarti ada yang sedang merindu
Aku harap itu omong kosong, karena sulit membayangkanmu tanpa bulu mata akibat ulahku yang merindumu setiap hari

Aku minta maaf jika sering hadir di dalam mimpimu
Pasti itu sangat mengganggu
Dan saat membuka mata,
Kamu pasti akan sangat bersyukur karena bertemu denganku itu cuma sebuah mimpi
Sekali lagi maafkan aku
Itu bukan inginku, tapi itu karena
Lagi-lagi kata orang
Jika memimpipikan seseorang
Berarti orang tersebut sedang merindu
Tapi itu omong kosong, aku gak percaya
Karena justru akulah yang sering memimpikanmu
Aku sering memimpikanmu
Ketika aku merindumu

Jika menjilat gagang pintu adalah ilegal di planet lain
Apakah merindumu juga termasuk tindakan ilegal?
Semoga tidak

*Halah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Toko Buku Bekas di Ciledug

My Dol, Aplikasi yang bikin gue tambah ngenes

Kakak ade'an (kakak kakaan adek adean)